Indonesia
Indonesia
Home / Indonesia
Film Teochew Berani Bersaing dengan Blockbuster Hollywood Beberapa Hal yang Perlu Kamu Ketahui tentang Dear You
source:羊城晚报-PEARL| 发表时间:2026-07-02 05:58

Film Dear You belakangan menjadi perbincangan di Tiongkok Daratan dan Asia Tenggara. Dengan biaya produksi sekitar 14 juta yuan, atau kurang lebih 28 miliar rupiah, film yang dibintangi banyak wajah baru dan didominasi dialog berbahasa Teochew ini berhasil menarik perhatian luas. Sejak 18 Juni, film tersebut mulai tayang bertahap di sejumlah negara Asia Tenggara, seperti Singapura dan Malaysia. Meski bukan produksi besar, performanya mampu bersaing dengan blockbuster Hollywood Toy Story 5. Lalu, apa saja hal yang perlu diketahui penonton Indonesia tentang film ini?

1. Film “Kuda Hitam” yang Mencatat Hasil Bagus di Asia Tenggara

Pada 18 Juni, Dear You tayang serentak di Singapura, Malaysia, dan Brunei. Di Singapura, hingga 23 Juni atau enam hari sejak dirilis, film ini telah meraup 7,3 juta dolar Singapura, atau sekitar 95 miliar rupiah. Angka tersebut menjadikannya salah satu film berbahasa Mandarin paling laris di Singapura dalam beberapa tahun terakhir. Antusiasme penonton juga terlihat dari pemutaran khusus versi dialek Teochew. Delapan sesi pemutaran khusus pertama, dengan total 4.816 tiket, habis terjual hanya dalam waktu satu setengah jam. Pihak distributor pun sedang mengajukan penambahan jadwal agar lebih banyak sesi versi dialek Teochew bisa digelar.

Di Malaysia, perebutan hak distribusi film ini berlangsung sangat ketat. Sejumlah perusahaan disebut berlomba-lomba untuk mendapatkan hak tayangnya. Pada awal penayangan resminya, film ini sudah diputar di lebih dari 100 bioskop di seluruh Malaysia, dengan total lebih dari 550 jadwal pemutaran per hari. Jumlah itu pun masih terus bertambah. Dalam lima hari pertama sejak tayang, film ini telah meraup 5,8 juta ringgit, atau kurang lebih 22 miliar rupiah di Malaysia. Angka tersebut membuat performanya bersaing ketat dengan film animasi besar Hollywood, Toy Story 5.

2. Film Ini Bercerita tentang Apa?

Dear You mengangkat budaya Qiaopi sebagai latar utama, yaitu tradisi surat sekaligus kiriman uang dari para perantau Tionghoa kepada keluarga mereka di kampung halaman. Film ini menghadirkan kisah tentang keluarga, penantian, dan kesetiaan yang menghubungkan daerah Teochew dengan Nanyang, sebutan lama untuk kawasan Asia Tenggara. Lan Hongchun, sutradara film ini, bukan sosok yang banyak dikenal di industri film. Namun, berkat risetnya yang mendalam tentang budaya Teochew serta kunjungannya ke ratusan keluarga Tionghoa perantauan, ia berhasil menyampaikan kisah yang sederhana, tulus, dan menyentuh hati banyak penonton. Di Tiongkok Daratan, film ini bahkan telah meraih pendapatan box office lebih dari 1,8 miliar yuan, atau sekitar 3,6 triliun rupiah, dan menempati posisi kedua daftar box office Tiongkok Daratan tahun 2026.

Cerita film ini berpusat pada Qiaopi. Tokoh utamanya adalah seorang nenek asal Teochew bernama Ye Shurou, yang hampir sepanjang hidupnya menunggu kabar dari sang suami melalui surat. Cucu Ye Shurou, Xiaowei, kemudian pergi ke Thailand untuk mencari tahu kebenaran di balik surat-surat tersebut. Namun, ia menemukan fakta mengejutkan. Orang yang selama puluhan tahun berkirim surat dengan neneknya ternyata bukan Zheng Musheng, sang suami yang merantau ke Nanyang, melainkan seorang pria yang tidak pernah dikenal keluarganya, Xie Nanzhi.

Zheng Musheng awalnya pergi ke Thailand untuk mencari nafkah dan menghidupi keluarganya. Selama bertahun-tahun, ia rutin mengirim surat dan uang kepada keluarganya di Tiongkok. Namun, ia mengalami musibah di Thailand dan meninggal lebih dulu. Setelah itu, sahabatnya, Xie Nanzhi, seorang perantau Tionghoa di Thailand, diam-diam melanjutkan kebiasaan Zheng Musheng. Ia bekerja, mengirim uang, dan menulis surat kepada keluarga Zheng Musheng, sambil merahasiakan kabar kematian sahabatnya itu. Keluarga Zheng Musheng di Tiongkok baru mengetahui kebenaran tersebut lebih dari 50 tahun setelah kematiannya.

3. Apa Itu Qiaopi?

Qiaopi adalah surat sekaligus bukti pengiriman uang yang dulu digunakan oleh orang Tionghoa perantauan untuk mengirim kabar dan uang kepada keluarga mereka di kampung halaman. Pengiriman ini biasanya dilakukan melalui jalur nonresmi berbasis kepercayaan, bukan melalui lembaga resmi seperti pos atau bank. Di dalamnya bisa terdapat surat keluarga, pesan singkat, sekaligus catatan kiriman uang.

Dalam dialek Teochew dan Minnan, salah satu rumpun dialek Tionghoa Selatan, kata pi berarti “surat”. Qiaopi juga dikenal dengan sebutan Fanpi (surat dari perantau di luar negeri) dan Yinxin (surat berisi uang). Dari sekitar 170 ribu dokumen Qiaopi yang masih tersimpan hingga kini, sekitar 160 ribu berasal dari Guangdong. Dari jumlah tersebut, lebih dari 100 ribu berasal dari daerah Teochew. Sementara itu, dokumen Qiaopi dari Fujian berjumlah sekitar 10 ribu. Pada tahun 2013, arsip Qiaopi masuk dalam Memory of the World Register UNESCO dan diakui sebagai bagian dari warisan dokumenter dunia.

Qiaopi banyak muncul sejak pertengahan abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20. Pada masa itu, banyak orang Tiongkok merantau ke Asia Tenggara, Amerika Serikat, Australia, dan berbagai wilayah lain untuk mencari nafkah. Setelah mendapat penghasilan di perantauan, mereka mengirim surat dan uang kepada keluarga yang masih tinggal di Tiongkok. Dari sinilah lahir banyak dokumen Qiaopi yang kini menjadi catatan penting sejarah perantauan Tionghoa. Menurut catatan yang ada, Qiaopi tertua yang ditemukan para kolektor dikirim pada 26 Mei 1859 oleh Wen Xinde, seorang Tionghoa perantauan di Indonesia. Surat itu dikirim dari Batavia, yang kini dikenal sebagai Jakarta, menuju Meixian. Saat ini, dokumen tersebut disimpan di Hakka Museum of China di Meizhou, Guangdong. Ada pula Qiaopi yang disebut sebagai Qiaopi terpendek di dunia. Isinya hanya satu huruf Mandarin, yaitu 难 yang berarti “sulit”. Surat itu ditulis oleh Chen Junrui, seorang Tionghoa perantauan di Indonesia, dan kini tersimpan di Qiaopi Cultural Relics Museum di Shantou.

4. Bagaimana Tanggapan Penonton Asia Tenggara terhadap Film Ini?

Dalam sebuah pemutaran khusus di Malaysia, Wakil Ketua Badan Promosi Pariwisata Malaysia, Yeoh Soon Hin, datang menonton bersama keluarganya. Ia mengatakan, detail tentang Qiaopi dalam film ini mengingatkannya pada pengalaman kakeknya yang dulu mengirim uang kepada keluarga di kampung halaman melalui Qiaopi. Menurutnya, film ini menggambarkan nilai yang dijunjung masyarakat Tionghoa, yaitu tidak melupakan asal-usul dan selalu mengutamakan keluarga.

Influencer asal Thailand, Lin Yonggui atau Pun, beberapa kali meneteskan air mata saat menonton film ini. Ia mengatakan, “Film ini menceritakan kisah orang Teochew yang merantau ke Nanyang dan berjuang mencari nafkah di Thailand. Dari film ini, aku jadi lebih memahami kisah keluargaku sendiri.” Saat adegan kawasan Pecinan di Thailand muncul di layar, Pun merasa begitu familier dengan suasana yang ditampilkan. “Itu Pecinan yang sering aku datangi,” ujarnya. Pemandangan jalan yang akrab dan suasana kehidupan sehari-hari yang terasa nyata membuatnya seolah melihat kembali bayangan para leluhur yang dulu menyeberangi lautan dan berjuang membangun hidup di negeri orang.

CEO jaringan bioskop Golden Village Singapura, Jiang Wenmei, dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa latar zaman dalam film ini sangat dekat dengan pengalaman hidup masyarakat Tionghoa di Singapura dan Malaysia. “Bahasa Teochew yang digunakan sang nenek dalam film ini juga sangat mirip dengan bahasa Teochew yang kami gunakan, jadi rasanya sangat mengena,” katanya.

“Banyak penonton menangis saat menonton film ini. Tidak sedikit pula anak muda yang datang bersama orang tua atau kakek-nenek mereka. Bahkan, ada lansia yang sudah bertahun-tahun tidak pernah masuk bioskop, akhirnya datang untuk menonton film ini,” ujar Toh Jin Jiang, Direktur Eksekutif Mega Films Distribution, distributor Dear You di Malaysia. Menurutnya, film ini berhasil mengangkat kisah-kisah yang dulu sering diceritakan oleh generasi kakek dan nenek ke layar lebar. Lewat emosi yang tulus dan kisah yang menyentuh, film ini berhasil memikat banyak penonton.

5. Apakah Film Ini Akan Tayang di Indonesia?

Dear You pertama kali tayang di Tiongkok Daratan pada 30 April 2026. Setelah itu, pada 18 Juni, film ini mulai tayang di bioskop Hong Kong, Makau, Singapura, Malaysia, dan Brunei. Penayangan internasionalnya kemudian berlanjut. Pada 25 Juni 2026, film ini lebih dulu tayang di Australia dan Selandia Baru. Sehari setelahnya, pada 26 Juni, Dear You mulai diputar di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Irlandia, dan Jepang. Ke depannya, penayangan film ini juga akan diperluas ke lebih banyak negara dan wilayah, termasuk Thailand, Vietnam, dan Korea Selatan. Namun, hingga saat ini belum ada informasi resmi mengenai rencana penayangan Dear You di Indonesia. Jika ada kabar terbaru, kami akan terus memberikan pembaruan.

文 | 记者 曾潇 赵鹏
翻译 | Catherine Christine

  • Jelajahi Wilayah Teluk Besar dengan Satu Tiket: “Dawanji”・Tiket Tahunan Wisata Guangdong-Hong Kong-Macao Diluncurkan
    Dengan tiket tahunan ini, wisatawan dapat menjelajahi lebih dari 100 destinasi wisata berkualitas di seluruh wilayah Greater Bay Area selama masa berlakunya, serta menikmati berbagai manfaat kehidupan sehari-hari seperti diskon di pusat perbelanjaan, restoran, dan hotel, serta penawaran eksklusif “Da Wan Ji”.
    2026-06-04 10:13:49
  • Keanekaragaman Hayati Guangdong Semakin Kaya
    Saat ini, tercatat ada 1.052 spesies hewan vertebrata liar darat dan 6.658 spesies tumbuhan tingkat tinggi liar di seluruh provinsi.
    2026-06-04 10:13:48
  • Naga Bangkit di Shunde! “Naga Tua” Berusia 80 Tahun dari Xinjiao, Daliang Muncul dari Air!
    Setelah badan perahu benar-benar kering keesokan harinya, akan dilakukan perawatan pelumasan profesional, guna mempersiapkan diri secara matang untuk parade “Cheng Jing” dan “Zhao Jing” yang akan digelar dua minggu kemudian.
    2026-06-04 10:13:47
  • Perahu Naga tradisional “berlayar” dari sungai ke pusat Kota Foshan
    Sekitar hari raya Dragon Boat Festival, warga dan wisatawan dapat merasakan langsung semangat membara masyarakat Foshan dalam “mendayung perahu naga”!
    2026-06-03 10:29:33
Scan to Share